Jumat, 07 November 2008

Melihat Allah SWT di Dunia & Akherat

Risalah Pengajian Sabtu Pagi
{ رُؤْ يـَـــةُ اللهِ فى الدُّنْيَاوَالآخِرَة}
Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.


Mungkinkah kita melihat Allah SWT di dunia dan di akherat?
Inilah pertanyaan yang telah melahirkan polemik dan perdebatan berkepanjangan di kalangan ahli Kalam (Mutakallimun, Teolog Muslim) dalam sejarah pemikiran Islam. Risalah ini tidak bertujuan untuk mendiskripsikan seluruh perdebatan teologis tersebut. Pemaparan karakteristik iman dalam Islam dalam Risalah terdahulu dapat menjadi pedoman menentukan sikap terbaik, bijak dan lebih ‘aman’ dari pada sekedar mubeng pada wacana dan pemikiran teologis, yang seringkali tidak berujung.
Perbincangan seputar ‘ru’yatullah’ adalah perbincangan tentang sebagian Asma’ & Shifat Allah SWT yang tentunya bersifat ghaiby dan tawqify, oleh karena itu akal tak berotoritas untuk menjelaskannya lebih jauh kecuali sebatas apa yang diterangkan oleh ‘nash’ (teks Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW). Mari kita cermati rumusan kaum Salaf tentang tauhid Asma’ & Shifat berikut ini:
“Pengakuan dan kesaksian yang tegas tentang Nama-nama Yang Baik dan Shifat-shifat Yang Agung bagi Allah SWT sesuai dengan apa yang diterangkanNya dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam Sunnah, tanpa disertai ‘tamtsil’ (perumpamaan), ‘tasybih’ (penyerupaan), ‘ta’thil’ (penafian), ‘tahrif’ (penyimpangan) dan ‘takyif’ (penentuan bentuk atau hakekatnya).”

Rumusan tertera berdasarkan pada firman Allah SWT :
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan ia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

Batasan makna di atas mengajarkan kita tentang satu substansi bahwa, permasalahan Asma’ & Shifat bersifat informatif murni (khabar), yang berkisar pada dua hal; negasi (nafyu) dan afirmasi (itsbat) dari sisi Allah SWT serta dapat disikapi oleh penerima pesan (mukhathab) dengan dua sikap pula; membenarkan (tashdiq) atau mendustakan (takdzib). Mengapa demikian? jelas, karena ini merupakan informasi murni tentang perkara-perkara yang wajib dimiliki oleh Allah SWT dari tauhid dan kesempurnaan sifat serta segala sesuatu yang mustahil bagiNya; syirik, sifat kekurangan dan penyerupaanNya dengan yang sesuatu yang tercipta (makhluq).
Inilah landasan dan prinsip yang kita pegang teguh dalam permasalahan ru’yatullah yang dipegang teguh oleh kaum Salaf, generasi awal Islam.
Selanjutnya mari kita cermati Petunjuk Allah SWT dalam surat Al-Qiyamah : 22-23 di bawah ini :
{ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ }
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.”

Apa makna “melihat” (ru’yah) dalam ayat terbaca di atas; apakah melihat dengan mata apa adanya ataukah melihat bermakna metaforis (majazi), sehingga ayat ini tidak bermakna hakekat yang sesungguhnya (haqiqi) ? Mari kita cermati baik-baik penjelasan ini.
Secara redaksional, tampak jelas, ru’yah di sini bermakna ‘melihat Allah SWT dengan mata kepala’. Dari sudut pandang kaidah bahasa Arab, sedikitnya menjelaskan tiga hal; pertama, kata melihat dalam ayat tersebut diidlafahkan kepada wajah; kedua, kata “نَاظِرَةٌ” yang merupakan bentuk ism fa’il dari kata kerja “نَـظَرَ” (melihat) berfungsi sebagai kata transitif dengan imbuhan “إلى” (ke) yang mengindikasikan ‘penglihatan mata’; dan ketiga, tidak adanya indikasi radaksional (faktor pendukung) yang menunjuk kepada makna yang bukan sesungguhnya ( haqiqi).
Ada baiknya kita perhatikan variasi penggunaan kata “نَـظَرَ” (melihat) di dalam Al-Qur’an serta maknanya masing-masing :
• Jika digunakan tanpa imbuhan kata bantu lain maka, “نَـظَرَ” bermakna “التوقف والانتظار” (berhenti dan menanti), seperti ayat berikut ini :
{يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آَمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ}
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.

• Jika digunakan dengan imbuhan kata bantu “في” maka, “نَـظَرَ” bermakna “التفكروالاعتـبار” (merenungkan dan mengambil pelajaran, ‘ibrah), seperti ayat berikut ini :
{أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ}
Dan apakah mereka tidak merenungkan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?

• Jika digunakan dengan imbuhan kata bantu “إِلىَ” maka, “نَـظَرَ” bermakna “المعاينة بالأبصار” (penglihatan dengan kasat mata), seperti ayat berikut ini :
{وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ}
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Lihatlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Makna ru’yah yang tertulis pada surat Al-Qiyamah : 22-23 sepadan dengan kata ru’yah pada bagian terakhir di atas. Apalagi jika dihubungkan dengan kata ‘wajah’, bagian dari organ tubuh kita, di mana mata berada di sana maka maknanya dapat dipastikan sebagai melihat dengan mata.
Ibnu ‘Umar RA menafsirkan “إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ” melihat kepada Wajah Allah SWT. Al-Hasan menyatakan, melihat kepada Rabb-nya lalu ia berseri-seri dengan cahayaNya. Ibnu Abbas RA juga mengatakan, “melihat kepada Wajah Rabbnya azza wa jalla.” Yang demikian juga diriwayatkan dari Ikrimah RA.
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkannya sebagai penglihatan kasat mata sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya :
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا"
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan kasat mata.”

Demikian pula penegasan Rasulullah SAW tentang ru’yatullah dalam hadis-hadis shahih berikut ini :
عن أبي هريرة : أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَلْ تُضَارُّونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ" قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:" فَهَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ" قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:" فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ"
Dari sahabat Abu Hurairah RA, sesungguhnya orang-oranb bertanya kepada Rasulullah SAW : ”Wahai Rasulullah apakah kita melihat Rabb kita pada hari kiamat?”. Rasulullah balik bertanya :”Apakah kalian celaka dengan melihat rembulan di malam purnama?. Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah!.” Rasulullah kembali bertanya :”Apakah kalian celaka melihat matahari yang tak terhalangi awan?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah!.” Rasulullah SAW bersabda :”Maka sesungguhnya kalian akan melihaNya demikian.”

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ فَقَالَ:"إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ثُمَّ قَرَأَ {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ}
Sahabat Jarir Ibn Abdillah RA mengisahkan, suatu malam pada tanggal empat belas, kami duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau melihat rembulan dan bersabda :”Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat (rembulan) ini, kalian tak terhalangi oleh suatu apapun dalam melihatnya, maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan menunaikan shalat sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka lakukanlah.”

Dalam munajat di akhir shalat sebelum salam, Rasulullah SAW melantunkan :
اللهم بِعِلْمِكَ اْلغَيْبَ؛ وَقُدْرَتِكَ عَلىَ الْخَلْقِ؛ أَحْيِنيِ مَا عَلِمْتَ اْلحَيَاةَ خَيْرًا ليِ؛ وَ تَوَفَّنيِ إِذَا عَلِمْتَ اْلوَفَاةَ خَيْرًا ليِ؛ اللهم إِنّيِ أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فىِ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ؛ وَأَسْأَلُكَ كَلِمَـةَ الْحَقِّ فىِ الرِّضَاوَاْلغَضَبِ؛ وَأَسْأَلُكَ اْلقَصْدَ فىِ اْلغِـنىَ وَاْلفَقْرِ؛ وَأَسْأَلُكَ نَعِيْـمًا لاَيَنْـفَدُ؛ وَأَسْأَلُكَ قُـرَّةَ عَيْنٍ لاَتَنْقَطِعُ؛ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ اْلقَضَاءِ؛ وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ اْلعَيْشِ بَعْدَ اْلمَوْتِ؛ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلىَ وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلىَ لِقَائِكَ فىِ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْـنَةٍ مُضِلَّةٍ؛ اللهم زَيِّنـَّا بِزِيْنَـةِ اْلإِيْـمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْـنَ.
“Ya Allah (sungguh aku mohon kepada-Mu) dengan Ilmu-Mu tentang segala yang ghaib dan kemahakuasaan-Mu untuk menciptakan; hidupkanlah aku bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku; dan matikanlah aku bila Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku; ya Allah sungguh aku mohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu ketika aku berada dalam keadaan sembunyi/tidak terlihat ataupun dalam keramaian/dilihat oleh orang lain; aku mohon kepada-Mu (untuk tetap teguh) pada “kalimat yang haq” ketika aku berada dalam keadaan rela ataupun marah; aku mohon kepada-Mu sikap sederhana dalam keadaan kaya dan miskin; aku mohon kepada-Mu keni’matan yang tidak habis; aku mohon kepada-Mu “perhiasan mata” (ketenteraman/kedamaian) yang tiada terputus; aku mohon kepada-Mu “sikap ridla” (rela, menerima dengan tulus ikhlas) atas segala taqdir yang telah engkau gariskan untukku; aku mohon kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan (sejuk) setelah kematian; aku mohon kepada-Mu agar aku dapat merasakan keni’matan memandang “Wajah-Mu”; kuaku mohon kepada-Mu “rasa rindu yang mendalam” untuk bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan (fisik dan agama) ataupun fitnah yang menyesatkan; ya Allah hiasilah kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang dapat memberi petunjuk (kepada jalan yang lurus) serta mendapat hidayah dan bimbingan-Mu.”

Pada bagian lain, Allah SWT berfirman :
{وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ. غَيْرَ بَعِيدٍ هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ. مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ. ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ. لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}

Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.

Pada bagian terakhir rangkaian lima ayat di atas (QS. Qaf 31-35) terbaca “…dan pada sisi Kami ada tambahannya”. Sahabat Ali Bin Abi Thalib dan Anas bin Malik RA menafsirkan “النظر إلى وجه الله عزوجل” (melihat Wajah Allah ‘Azza wa Jalla). Sepadan dengan firman Allah di bawah ini :
{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَ زِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.

Al-Imam Abu Al-‘Izz dalam kitabnya Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah menjelaskan “al-husna” bermakna ‘surga’ dan “al-ziyadah” bermakna ‘melihat Wajah Allah Yang Maha Mulia’. Penafsiran ini berdasarkan pada keterangan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut :
عَنْ صُهَيْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ {لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ }

Diriwayatkan oleh sahabat Shuhaib RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Jika penghuni surge telah masuk ke dalam surge, Allah SWT bertitah, ‘Kalian menginginkan sesuatu yang saya tambahkan untuk kalian?.’ Mereka menjawab :’Bukankah telah Engkau jadikan wajah-wajah kami bersinar, bukankah telah Engkau masukkan kami ke dalam surga dan engkau selamatkan kami dari neraka?’. Lalu Ia membuka tabir, maka sungguh mereka tidak dikaruniakan sesuatu yang lebih mereka cintai dari pada melihat kepada Rabb mereka.” Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat Allah SWT “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya”.

Al-Hakim (w. 405 H) , penulis Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, meriwayatkan bahwa Rabi’ Ibn Sulaiman (sahabat Imam Syafi’i, w. 270 H) menghadiri majelis Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau ditanya tentang makna ayat 15 pada surat Al-Muthaffifin :
{كَلاَّ إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang yang mendustakan hari kemudian) pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka”

Beliau menjawab :
"لمَاَّ أَنْ حُجِبَ هَؤُلاَءِ فىِ السَّخَطِ، كَانَ فىِ هَذاَ دَلِيْلٌ عَلىَ أَنَّ أَوْلِيَاءَهُ يَرَوْنَهُ فىِ الرِّضَا"
“Ketika orang-orang yang mendustakan hari kemudian dan mendustakan Al-Qur’an terhalangi (melihat Allah SWT) dalam kemurkaan, maka ini menjadi satu petunjuk (dalil) bahwa para kekasihNya melihatNya dalam keridlaan.”

Dari penjelasan ini kita meyakini dengan sesungguhnya bahwa, ru’yatullah (melihat Allah SWT) secara haqiqi merupakan keniscayaan bagi orang-orang beriman, dan bukan sesuatu yang bersifat metaforis atau majazi. Sebagaimana orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah SWT terhalang melihatNya.
Meskipun demikian, perlu disampaikan di sini bahwa tidak semua umat Islam meyakini seperti terbaca di atas. Mu’tazilah umpamanya. Sebagai pelopor aliran rasionalisme dalam Islam yang bercirikan mengedepankan akal di atas nash menolak pemahaman ru’yatullah di atas. Alasan terpentingnya ialah makna firman Allah SWT di bawah ini :
{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ}
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Pada ayat tertera “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Aliran Mu’tazilah berpandangan tidaklah mungkin bagi kita untuk melihat Allah SWT. Lalu bagaimana kita menjelaskannya? Pertama : Ayat tersebut menceritakan tentang seorang yang mulia di sisi Allah SWT, Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliau dikenal sebagai “كليم الله” (seorang hamba yang dianugerahi Allah SWT untuk berbicara langsung denganNya). Sebagai seorang nabi pada masanya, beliau adalah orang paling berilmu tentang Rabbnya. Tentunya amatlah mustahil beliau memohon kepadaNya sesuatu yang tidak diperkenankanNya.
Kedua, tidak tertera pada ayat tersebut pengingkaran Allah SWT terhadap permohonan Nabi Musa ‘alaihissalam. Jika Allah tidak berkenan atas suatu permohonan nabiNya, secara eksplisit dijelaskanNya hal tersebut. Contohnya ialah, ketika nabi Nuh ‘alaihissalam memohon kepadaNya agar anaknya diselamatkan oleh Allah, beliau ditegur. Perhatikan ayat ini :
{وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ. قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ}
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

Ketiga, perhatikan redaksi ayat tersebut dengan seksama. Allah mengatakan “لَنْ تَرَانِي” (Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku). Dia tidak mengatakan “إني لاَ أ ُرَى” (sesungguhnya Aku tidak terlihat). Sangat jelas perbedaan makna antara kedua ungkapan ini. Umpamanya begini. Kita sedang menggenggam batu. Seseorang dari kejauhan menyangkanya makanan, lalu ia bilang “beri aku makanan itu!”(أطعِمْنيـهِ). Tentu kita jawab “sungguh benda ini tidak dapat dimakan “ (إنه لايـؤكل). Tapi jawaban kita akan berbeda, jika yang di genggaman kita tadi makanan sungguhan, dan orang yang memintanya tidak dapat memakannya karena satu alasan tertentu. Kita akan mengatakan “engkau tidak akan memakannya!” (إنك لن تأكله). Secara redaksional, ayat ini menunjukkan Allah SWT sebagai dzat yang dapat “Dilihat” (مَرْئِــيّ) akan tetapi Nabi Musa ‘alaihissalam tidak mempu melihatNya di dunia ini karena kelemahan potensi penglihatan manusia.
Keempat, Kalam Allah SWT “وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ” (tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya [sebagai sediakala] niscaya kamu dapat melihat-Ku) mengajarkan kita bahwa, bukit dengan kekokohannya tidak dapat bertahan ketika Allah hendak menampakkan DiriNya. Apalagi kita, manusia ini, yang tercipta dalam keadaan lemah tak berdaya.
Kelima, lanjutan ayat tersebut “فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا” (Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh) menerangkan bahwa tidak mustahil bagi Allah untuk melakukan ‘tajalli’ (menampakkan DiriNya), padahal bukit adalah benda mati yang tidak berpahala, tapi juga tidak berdosa! Tentunya Musa ‘alaihissalam sebagai hambaNya yang termulia, termasuk juga para kekasih Allah yang lain, lebih memungkinkan untuk menyaksikan ‘tajalli’ yang dimaksud, tapi sekali lagi, di dunia karena kelemahannya manusia tak mampu mengalaminya.
Keenam, menurut Mu’tazilah kata “لَنْ” pada ayat tersebut fungsional sebagai penafian yang bersifat abadi, termasuk di akherat kelak. Pernyataan ini tidak benar berdasarkan bukti penggunaannya dalam Al-Qur’an. Perhatikan redaksi ayat-ayat yang digaris bawahi berikut ini,
{قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآَخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ}
Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.

{وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ}
Mereka berseru: "Hai Malik (penjaga neraka) biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).

Pada kelompok ayat pertama, Imam Syaukani menjelaskan demikian. Ketika orang-orang Yahudi dan Nashrani mengklaim hanya mereka saja yang pantas masuk surga. Oleh karenanya mereka ditantang untuk mencita-citakan kematian secepatnya. Tentu, bagi orang yang sangat yakin pasti masuk surga tak hendak memperlama hidup di dunia, surga lebih mereka sukai. Namun Allah jelaskan pada ayat berikutnya “وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا” (Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya) karena faktor dosa-dosa mereka.
Lalu perhatikan kelompok ayat kedua, “لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ” (biarlah Tuhanmu membunuh kami saja ). Ketika para pelaku dosa dan kriminal mendapat siksaan yang teramat pedih, mereka tak lagi sanggup untuk menerimanya berlama-lama. Mereka bertawassul dengan Malaikat Malik, Penjaga Neraka, agar Allah membinasakan mereka saja supaya terbebaskan dari siksa neraka yang amat pedih itu.
Bila kedua kelompok ayat terbaca di atas disandingkan, lalu kita analisa dengan baik, tampak jelas penggunaan kata “لَنْ” pada uangkapan “وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ” yang jelas-jelas dibatasi dengan kata “أَبَدًا” (bermakna abadi), tidak menunjukkan keabadian dan kekekalan mutlak. Buktinya ialah pada kelompok ayat kedua justeru para pelaku dosa, termasuk Yahudi dan Nashrani mohon kepada Allah SWT melalui malaikatNya Malik agar mereka dimatikan saja “لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ” (biarlah Tuhanmu membunuh kami saja). Fakta ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an menggunakan kata “لَنْ” yang tidak berkonotasi kekekalan atau keabadian.
Di sisi lain, jika kata “لَنْ” dalam Al-Qur’an menunjuk kepada makna kekekalan dan keabadian, tentunya tidak boleh dibatasi dengan batasan tertentu. Misalnya dalam ayat ini,
{فَلَمَّا اسْتَيْئَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّى يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ}
Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

Akhirul Kalam. Perdebatan umat pada masalah ru’yatullah sejatinya ialah perdebatan tentang Asma’ dan Shifat-ShifatNya, (Nama-Nama Allah SWT dan Shifat-ShifatNya Yang Agung). Perlu kita ingat dengan baik, perebatan semacam ini telah memposisikan Yahudi dan Nashrani dalam pertarungan iman yang tak berakhir. Masing-masing mengklaim kebenaran yang mutlak. Ketika Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan oleh Ibundanya Maryam ‘alaihassalam tanpa proses biologis yang semestinya (dalam penalaran manusia) diyakini oleh penganut Nashrani sebagai Anak Tuhan, sementara penganut Yahudi menegaskannya sebagai anak zina. Tentunya kita tak hendak terjerumus dalam kekeliruan yang sama seperti munajat kita (Al-Fatihah : 6-7) di setiap shalat. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيــمَ. صِرَاطَ الَّذِيـنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْــهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْــهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}

Diposting oleh : Ismunadji ( http://internet-marketingindonesia.com )
-----------------------------
Lihat, Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, al-Madkhal li Dirasat al-Aqidah al-Islamiyah ‘ala Madzhab ahl al-sunnah wa al-Jama’ah, (Riyadl: tp., tt. ), Cet. hal. 90., Syaikh Muhammad Ibn Shalih Ibn al-‘Utsaymin, Taqrib al-Tadmuriyiyah (Al-Qahirah: Maktabh al-Sunnah, 1413), Cet. I, hal.19.
Q.S. Al-Syura : 11
Ibid., hal. 17
Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah, Tahqiq : Syu’aib al-Arna’uth (Beirut: Mu’assasah Risalah, 1417), Cet. 9, Jilid I, hal. 209., Bandingkan dengan, Abu al-Hasan al-Asy’ary, Al-Ibanah ‘An Ushul al-Diyanah, Tahqiq : Basyir Muhammad ‘Uyun (Riyadl: Maktabah al-Mu’ayyid, 1413), Cet. IV, hal. 58-63., Al-Imam Abu Muhammad ‘Abd al-Jalil al-Qushary, Syu’ab al-Iman, Tahqiq : Sayyid Kasrawy Hasan (Makkah al-Mukarramah : Maktabah Dar al-Baz, 1416), Cet. I, hal. 628-631
Q.S. Al-Hadid : 13
Q.S. Al-A’raf : 185
Q.S. Al-An’am : 99
Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/209
Ibid., hal. 210
Ibnu Katsir, Tasir al-Qur’an al-‘Adzim (Madinah : Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 1413), IV/450
HR Bukhari (Bab : Firman Allah “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ” Jilid 22/445, lihat al-Maktabah al-Syamilah )

HR.Bukhari (Dalam Shahihnya, bab : Firman Allah “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ” 22/447. Juga oleh Imam Muslim dalam bab :” معرفة طريق الرؤية”, 1/425. , Lihat al-Maktabah al-Syamilah)
HR. Bukhari (Dalam Shahihnya, bab : “وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ”, 15/89)

Al-Nasa’iy III/54 dan 55; Ahmad IV/364 dan di-shahihkan oleh Albany dalam Shahih al-Nasa’iy I/281. Lihat Sa’id ibn Ali ibn Wahf al-Qahthany, Hishn al-Muslim min Adzkar al-Kitab wa al-Sunnah (Riyadl: Muassasat al-Juraisi, 1424), Cet. Ke-29, hlm. 43-45.
Q.S. Qaf : 31-35
Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/210
Q.S. Yunus : 26
Ibid., hal. 211
Q.S. Yunus : 26
HR Muslim (kitab :” إثبات رؤية المؤمنين فى الآخرة ربهم”. Lihat pula, Shahih Ibnu Majah dan Shahih al-Tirmidzi, Al-Maktabah al-Syamilah)
Diriwayatkan Oleh Al-Baihaqi dalam kitab Al-Manaqib I/419. Lihat, Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/212
Q.S. Al-A’raf : 143
Ibn Abi al-‘Izzi al-Dimasyqi, Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah…I/213-214
Q.S. Hud : 45-46
Q.S. Al-Baqarah : 94-95
Q.S. Al-Zukhruf : 77
Al-Syaukani, Fath al-Qadir, I/143. Lihat, al-Maktabah al-Syamilah.
Al-Syaukani, Fath al-Qadir, VI/417. Lihat, al-Maktabah al-Syamilah
Q.S. Yusuf : 80
Silahkan renungkan ayat-ayat Al-Qur’an, Al-Ma’idah :73-76, Maryam : 16-28 dan Taubah : 30-31

Kamis, 23 Oktober 2008

Makna dan Karakteristik Iman Dalam Islam



Risalah Pengajian Sabtu Pagi

Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.

Pengertian iman; etimologis dan terminologis
Secara etimologis, iman berarti membenarkan dengan hati. Adapun secara istilah syar’iy, Al-Imam Ibnu Taymiyah, dalam kitabnya Al-Iman, menukil beberapa definisi “iman” yang dipahami oleh generasi Salaf. Diantaranya sebagai berikut; “ونية الإيمان قول وعمل”(iman ialah perkataan, perbuatan dan niat). Penyebutan kata ‘niat’ secara eksplisit bermaksud untuk menjelaskan bahwa tidak semua perbuatan selalu dipahami sebagai “niat”. Sebagian yang lain berpendapat “وعمل ونية واتباع السنة الإيمان قول” (iman ialah perkataan, perbuatan, niat dan mengikuti sunnah). Di sini secara tegas disebutkan “ Ada pula yang mengatakan “قول باللسان واعتقاد بالقلب وعمل بالجوارح” (iman ialah perkataan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan perbuatan dengan organ tubuh). Agar lebih jelas, ada baiknya kita nukil jawaban Sahl Ibnu Abdillah Al-Tastury, ketika beliau ditanya tentang iman. Beliau menjawab demikian :
"قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّـةٌ وَسُنَّـةٌ، اْلإِيْمَانُ إِذَا كَانَ قَوْلاً بِلاَ عَمَلٍ فَهُوَ كُفْـرٌ، وَإِذَا كَانَ قَوْلاً وَعَمَلا ًبِلاَ نِيَّـةٍ فَهُوَ نِفَاقٌ، وَإِذَا كَانَ قَوْلاً وَعَمَلاً بِلا َسُنَّـةٍ فَهُوَ بِدْعَـةٌ"
(Iman ialah perkataan, perbuatan, niat dan sunnah. Iman, jika hanya perkataan tanpa perbuatan maka itu kekufuran; jika hanya perkataan dan perbuatan tanpa disertai dengan niat maka itu kemunafikan; jika hanya perkataan dan perbuatan tanpa mengikuti sunnah maka itu adalah bid’ah)

Al-Imam Syafi’i rahimahullah meriwayatkan ijma’ para sahabat, tabi’in dan mereka yang sezaman dengan beliau tentang pengertian iman sebagai berikut :
تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ, وَإِقْـرَارٌ بِالِّلسَانِ, وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ
Maksudnya “membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan organ tubuh”. ‘Tashdiqun bi al-qalbi’ yaitu meyakini dan menerima segala apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. ‘Iqrar bi al-lisan’, mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat). ‘Amalun bi al-arkan’ berarti hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, dan organ tubuh yang lainnya mengamalkan dalam bentuk ibadah praktis individu dan social, sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Pemaknaan iman terbaca di atas sama sekali berbeda dengan kaum Murji’ah yang menyatakan iman hanyalah keyakinan atau perbuatan hati semata, tanpa aktualisasi kongkret. Mereka populer dengan doktrin ”لاتضر مع الإيمان معصية كما لا تنفع مع الكفر طاعة” (derajat keimanan tidak akan berkurang karena laku maksiat, sebagaimana ketaatan kepada Allah SWT tidak akan mempengaruhi kekufuran). Kaum Murji’ah dengan varian yang lain, Al-Karamiyah, menyatakan iman ialah pernyataan lisan semata. Yang lain, versi Murji’ah Fuqaha’, menyatakan, iman cukup dengan keyakinan hati dan pernyataan verbal. Ketiga rumusan Murji’ah tersebut bermuara pada satu kesimpulan, mereka tidak memerlukan amal sebagai aktualisasi kongkret keimanan yang bersemayam di hati manusia.

Iman Bertambah dan Berkurang
Seperti terbaca di atas, iman dalam pemahaman generasi salaf menjadikan tiga dimensi iman menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak boleh dipisah-pisahkan. Di sini dapat dipahami bahwa ‘amal (perbuatan hati dan organ tubuh) menjadi bagian tak terpisahkan dari pemaknaan iman itu sendiri. Oleh karena itulah, iman akan bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
Konsep fluktuasi atau naik-turunnya iman dapat kita cermati pada surat Al-Anfal 2-4 berikut :
{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ}
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal :2-4)

Demikian pula hadis-hadis Nabi SAW di bawah ini :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
Dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :“Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama ialah perkataan ‘tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT’ dan yang terendah ialah menyingkirkan rintangan atau kotoran dari jalan, sedang rasa malu itu juga merupakan salah satu cabang iman.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Dari sahabat Abu Sa’id al-Khudry RA, Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan yang demikian itu ialah selemah-lemahnya iman.”

Karakteristik Iman dalam Islam
Segala sesuatu memiliki ciri khas sendiri yang membedakannya dengan yang lain, termasuk dalam perkara iman dan keyakinan beragama. Kaum musyrikin mengekspresikan keyakinannya dalam bentuk pemujaan benda-benda alam di atas fungsi yang semestinya. Orang-orang ateis mendewakan paham anti eksistensi Allah SWT. Kaum sekuler mempertuhankan dikotomi dunia-akherat, Tuhan-manusia. Penganut Rasionalisme memuja akalnya. Pengikut Liberalisme menyanjung kebebasan tanpa batas dan anti hukum Allah SWT. Pemeluk Komunisme memegang erat doktrin pertarungan antar kelas yang mutlak sebagaimana penganut Kapitalisme yang memuja keunggulan individu atas segalanya.
Demikian pula kita, umat yang menyatakan “radlitu billahi Rabban, wa bil-Islami dinan, wa bi Muhammadin nabiyya wa rasula”, memegang teguh ajaran tauhid yang kita wujudkan dalam kehidupan nyata dalam rumusan “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil-‘alamin.” Sistem iman dalam Islam mengajarkan kita untuk mempertahankan visi kehidupan, tidak saja di dunia, tapi jauh melintasi alam materi, kehidupan kekal di akherat. Islam menuntun kita untuk mendudukkan manusia pada dua dimensi sekaligus; jasmani dan ruhany, di saat isme-isme yang lain mengabaikannya dan kemudian mengantarkan pemeluk-pemeluknya kepada krisis kehidupan dan bahkan sampai pada kebinasaan.
Perbedaan khas di antara kelompok manusia di atas secara sederhana dapat kita katakan sebagai karakteristik atau keistimewaan. Dalam bahasa Arab hal ini disebut sebagai “khashaish”. Iman dalam ajaran din kita, Islam, mempunyai beberapa kistimewaan atau sifat dasar yang membedakannya dengan berbagai model dan sistem keyakinan dan ideologi lain. Pada risalah kecil ini saya sampaikan tiga karakteristik; “tawqifiyah” (meyakini sebatas yang diterangkan Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW), “ghaibiyah” (bersifat ghaib; tidak terindera) dan “syumuliyah” (integralitas/menyatunya dimensi substansi dan aplikasi).

 Tawqifiyah (تَـوْقِـْيـقِـَّيةٌ)
Tawqifiyah dapat kita maknai sebagai meyakini perkara-perkara iman sebatas yang diterangkan Al-Qur’an dan Rasulullah SAW. Hal sedemikian, meskipun akal berpotensi untuk memahami dan menalar, tapi ia tak dapat berdiri sendiri dalam memahami dan menalar hakekat-hakekat keimanan secara detail dan terperinci. Dalam perkara keimanan seringkali terdapat muatan-muatan yang membingungkan dan akal tidak sanggup menalarnya. Namun di saat yang sama kita juga tidak menemukan alasan untuk menafikannya.
Tentang kehidupan alam kubur misalnya. Seringkali kita tidak mampu menalar dengan baik akan hakekat alam barzakh dan dua Malaikat Allah; Munkar dan Nakir. Keduanya diterangkan oleh Rasulullah sebagai juru tanya di alam kubur. Akal tidak dapat menjelaskan secara kongkret tentang keduanya, termasuk berbagai kenyataan (hakekat) yang akan kita alami di alam barzakh nanti. Kita tidak akan pernah memiliki pengalaman bertemu keduanya di dunia. Pada saat yang sama, kita yang belum mati saat ini, atau siapapun yang tidak meyakininya, tidak punya cukup alasan untuk menafikan keberadaannya karena ketiadaan data atau observasi ilmiah yang membuktikan atau memvisualisasikannya. Kita tidak akan pernah memegang data statistik tentang orang-orang yang telah mengalami kehidupan alam kubur yang kembali ke dunia, lalu mereka disurvei. Itu mustahil!.
Sampai di sini akal tidak dapat menjelaskan secara kongkret. Nah, untuk menjembatani dan mempertemukan kesenjangan antara kelemahan akal kita untuk menafikan dan hakekat alam barzakh, termasuk dua malaikat Munkar dan Nakir, Allah SWT mengajarkan kita tentang satu hal yang sangat penting dalam hidup ini : Al-Iman (keimanan).
Contoh lain. Tentang surga dan neraka, apakah benar adanya atau sekedar metaforis? Seorang pemikir muslim menyatakan, “Konsep surga dan neraka merupakan cara Tuhan untuk ‘memaksa’ hamba-hambaNya agar berbuat baik dan menjauhi kejahatan.” Yang lain berkata,”Kalaulah surga hanya seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an; ada sungai yang mengalir, pohon-pohon yang rindang, buah-buahan dll., maka saya tidak pernah bercita-cita masuk surga. Hal sedemikian karena memang Al-Qur’an diturunkan di gurun pasir yang tandus!.” Subhanallah!
Jika kita ingin menggali lebih jauh tentang pemikiran seperti itu, kita akan bertanya,”Tolong buktikan secara kongkret, dengan data-data ilmiah dan observasi autentik bahwa surga itu tidak ada, dan itu hanya bersifat metaforis?.”Kita yakin pemikir tersebut tidak akan dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Karena jelas, ia belum mati, sementara surga dan neraka akan kita ketahui di alam akherat nanti. Jadi, sesungguhnya antara orang yang meyakini adanya surga dan neraka, atau sebaliknya, menafikan keberadaannya sama sekali sama saja. Tidak ada bedanya, keduanya berdasarkan pada satu kata : “klaim”. Orang yang meyakini paling jauh dasar klaim mereka adalah “wahyu” dan bagi yang menolak landasan mereka adalah “akal”. Perlu kita tegaskan bahwa perkara keimanan adalah klaim yang hanya berdasarkan “wahyu”.
Mari kita perhatikan petunjuk Allah SWT kepada RasulNya SAW ketika ditanya tentang ruh :
{وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا}
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Dalam ayat ini Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjawab “"Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku!”. Penisbatan ruh kepada Allah SWT (أَمْرِ رَبِّي) menunjukkan kekhususanNya; ruh menjadi bagian dari IlmuNya yang dirahasiakan dan tidak kita ketahui. Selain itu, ayat ini mengandung larangan dan himbauan tegas agar kita tidak ngoyo dan membuang energi dalam membahas hakekat ruh yang memang berada di luar jangkauan dan otoritas akal. Bahkan melakukan hal sedemikian menurut para mufassir sebagai pembicaraan sia-sia yang tak mendatangkan manfaat agama ataupun keuntungan dunia. Bagaimana mungkin kita (pengikut para Nabi) dapat melakukan hal ini, sementara Allah SWT tidak pernah membuka tabir tentang ruh kepada Nabi-nabiNya, bahkan mereka tidak diizinkan untuk bertanya, tidak pula membahas tentang hakekat ruh.
Betapa mulianya sikap para sahabat yang dengan penuh ketulusan menerima penjelasan Rasulullah SAW tentang seseorang yang telah dikuburkan. Tak seorangpun yang membantah ataupun meminta data observasi ilmiah sebagai bukti adanya alam kubur. Ada baiknya kita renungkan penjelasan Rasulullah SAW berikut ini :
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ قَالَ يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ قَالَ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا".قَالَ قَتَادَةُ وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا وَيُمْلَأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Sesungguhnya seorang hamba jika telah dibaringkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh para pengantarnya, sungguh dia akan mendengar suara ketukan sandal mereka.” Lanjut beliau, “Datang kepadanya dua malaikat, lalu keduanya mendudukkannya seraya bertanya : ‘Apa yang engkau katakan tentang orang ini?’. Adapun orang mukmin maka dia akan menjawab: ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasulNya’, Lalu dikatakan kepadanya :’lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat duduk bagimu di surga!’ ”. Nabiyyullah bersabda,” Maka ia melihat keduanya.” Sahabat Qatadah (yang meriwayatkan hadis ini) berkata :”Dijelaskan pula kepada kami bahwa orang tersebut dilapangkan baginya di alam kubur seluas 70 hasta dan dipenuhi atasnya keni’matan yang segar hingga hari orang-orang dibangkitkan dari kuburnya.

Saya teringat kisah Bapak Prof. Ahmad Mursyidi, ketua Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta, yang juga mantan rektor UMY. Pada general studium di Lembaga Pendidikan Insani Yogyakarta beliau bercerita begini. Suatu saat beliau berkunjung ke Amerika Serikat untuk mengikuti sebuah seminar. Di sela-sela kegiatan ilmiah tersebut beliau selalu istiqamah untuk menunaikan shalat. Salah seorang kolega beliau mengomentari kurang lebih begini,”Pak Mursyidi, saya lihat Anda sangat konsisten dengan ritual shalat. Saya boleh tau, kenapa ya?.” Prof. Ahmad Mursyidi dengan enteng menjawab, “Bung, saya ini ibarat seorang mahasiswa yang besok pagi masuk ujian. Cukup menjalankan perintah dosen untuk mempelajari materi perkuliahan yang telah diajarkan. Perkara besok, di saat ujian, yang saya pelajari itu keluar atau tidak: nothing to lost!. Lha, akan lebih repot lagi jika sejak awal saya bersikap apriori, tidak mau belajar. Dan ternyata ketika ujian apa yang dipesankan oleh dosen saya benar-benar ditanyakan. Saya tidak mau ambil resiko mas.”
Secara sederhana dapat kita nyatakan bahwa sikap Prof. Mursyidi pada cerita terbaca tadi sebagai sikap “iman” yang tidak perlu dirasionalkan, sebab ini perkara “tawqify”.
Barangkali, masih tersisa pertanyaan di benak kita masing-masing “mengapa harus demikian, bukankah kita diberi akal sebagai instrumen untuk memahami kehendak Tuhan?”. Tentunya percikan pemikiran seperti ini tidaklah salah. Pada batas tertentu barangkali wajar. Allah SWT berkehendak mengingatkan kita bahwa akal bukan segala-galanya. Akal manusia sangatlah terbatas. Oleh karena itu tidak perlu terlampau dipuja-puji, apalagi didewakan atau dipertu-hankan. Perhatikan dua ayat berikut ini :
{وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ}
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

{قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ. وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ. وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآَنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
“Katakanlah : "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?" Katakanlah "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran". Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? bagaimanakah kamu mengambil keputusan?. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidaklah mungkin Al Quran Ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang Telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.”

Di samping keterbatasan akal, ada dua hal yang perlu kita ingat :
Pertama : Allah SWT telah menyempurnakan agamaNya. Pun pula Rasulullah SAW telah menunaikan kewajiban beliau menyampaikan risalah Ilahiyah kepada kita, sehingga tidak satu bagian pun lepas dari penjelasan. Apalagi perkara-perkara iman yang menjadi fondasi din. Ini merupakan konsekuensi penyempurnaan Islam yang difirmankan oleh Allah SWT dalam ayat berikut :
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}
“...Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...”

{فَلاَ وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Demikian pula sabda Rasululllah SAW :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّواْ بَعْدِي أَبَدًا، كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتيِ
“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya : Kitab Allah dan Sunnahku.

Kedua, sebagai konsekuensi logis dari keterbatasan akal kita serta kesempurnaan din sebagaimana di atas maka, kita wajib konsisten memaknai perkara-perkara keimanan sesuai dengan yang diterangkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian kita tidak diperkenankan secara syar’ie untuk menafsirkan “lafazh-lafazh” tentang keimanan kecuali dengan makna-makna yang diterangkan sendiri oleh Al-Qur’an dan Rasulullah SAW melalui hadisnya. Inilah yang disebut sebagai “tawqify”.

 Ghaibiyah (غَيْـبِـيَّـةٌ)
Berasal dari kata “ghaib” yang secara harfiyah berarti sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera kita; tidak tercium, teraba, terasa ataupun terdengar. “Ghaibiyah”, dalam gramatika bahasa Arab dinisbatkan ke kata ini, “ghaib”. Dengan demikian ia berarti sesuatu yang dikategorikan “ghaib”, tidak tercium, tidak teraba, tidak terasa ataupun tidak terdengar.
Al-Qur’an menjelaskan, panca indera merupakan jendela akal kita untuk memperoleh pengetahuan.
{وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُـونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ}
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

Oleh karena itu, sesuatu yang tidak terobservasi oleh indera tentu tidak dapat pula dinalar oleh akal kecuali secara parsial dan tidak utuh, dengan cara menganalogikan yang “ghaib” dengan yang terindera. Namun demikian, tidak berarti semua muatan keimanan selalu tidak dapat ditangkap oleh akal ataupun indera kita. Allah SWT menegaskan bahwa salahsatu sifat yang paling menonjol pada diri orang yang bertaqwa ialah keimanannya yang teguh terhadap yang ghaib, seperti keterangan ayat ini :
{الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
Alif lâm mîm. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.

Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, seorang pakar akidah di Kulliyat Al-Mu’allimin di Dammam, Kerajaan Arab Saudi menjelaskan hal ini. Menurut beliau, iman kepada yang ghaib merupakan spesifikasi fitrah manusia. Penalaran terhadap realitas fisik merupakan potensi yang sama-sama kita miliki, juga binatang. Bahkan penalaran metafisik merupakan instink yang melekat pada diri kita. Kini, hal ini disebut sebagai kuriositas, dorongan dan potensi keingin-tahuan. Potensi inilah yang menjadi factor pemicu penemuan-penemuan ilmiah, yang dengannya kita, manusia zaman modern, dapat menikmati berbagai kekeyaan alam.
Mudahnya begini. Saat ini kita hidup di tengah realitas kehidupan yang sangat menakjubkan. Kita menikmati berbagai sarana kehidupan untuk menjadi hamba Allah yang baik sebagai hasil rekayasa canggih ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika realitas ini kita andaikan lima puluh tahun yang lalu, mungkin kita bergumam, “apa ya?”. Tentunya realitas saat ini menjadi sesuatu yang tak terbayangkan di masa itu. Artinya ia sesuatu yang “ghaib”.
Ilustrasi terbaca di atas menjelaskan tentang adanya konsep ghaib yang terikat, relative. Artinya, kegaiban yang belum kita temukan ataupun kita rasakan kecuali setelah Allah SWT mengizinkan kita menemukan dan merasakannya, sesuai dengan qadarNya. Coba kita renungkan lantunan munajat Nabi SAW dalam hadis di bawah ini :
ماَ أَصَابَ أَحَدًا قَطُّ هَمٌّ وَلاَحُـزْنٌ ، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنيِّ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتيِ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَلَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ اْلغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ اْلقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبيِ وَ نُوْرَ صَدْرِي وَ جَلاَءَ حَـزَنيِ وَذَهَابَ هَمِّي إِلاَّ أَذْهَبَ اللهُ هَمَّهُ وَحُـزْنَـهُ وَ أَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَجًا. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ نَتَعَلَّمُهَا ؟ فَقَالَ: بَلىَ يَنْبَغيِ لِمَنْ سَمِعَهَا أَنْ يَتَعَلَّمَهَا
Tidaklah samasekali seseoran dirundung kesedihan lalu ia berdo’a :”Ya Allah sungguh aku adalah hambamu, anak dari seorang hambaMu yang laki dan perempuan, diriku di genggamanMu, keputusanMu pasti berlaku atas diriku, taqdirMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama agung yang Engkau miliki, yang Engkau sebut diriMu dengannya, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhlukMu, atau Engkau sebutkan dalam KitabMu, atau tetap Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisiMu, jadikanlah ya Allah Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, jadikan ia cahaya dalam hatiku, yang melenyapkan rasa sedihku dan menghapus kegundahanku”, kecuali Allah SWT lenyapkan kegundahan dan kesedihan hatinya dan digantikan dengan kegembiraan. Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, ‘apakah tidak sebaiknya kami mempelajarinya?’. Lalu beliau menjawab :”tentu saja, barang siapa mendengarnya hendaklah ia mempelajarinya!.”

Tentang hadis ini, Dr. Al-Buraykan menjelaskannya sebagai berikut. Bahwa ada sesuatu yang sebelumnya masuk dalam wilayah ghaib kemudian diajarkan kepada kita. Ghaib semacam ini dapat disebut sebagai ‘ghaib nisbiy’ (kegaiban yang relatif). Maksudnya, bisa saja sesuatu tidak terindera (ghaib) bagi seseorang, namun tidak bagi yang lain.
Selain yang bersifat relatif, ada pula ghaib muthlaq (kegaiban yang absolut), yang mustahil kita indera karena ketiadaan sarana penalaran yang memadai. Ada tiga sarana untuk sampai kepada sebuah pengetahuan; panca indera dan berita (dari Allah dan RasulNya), kedua hal ini menjadi sumber pengetahuan rasional; analogi yang ghaib dengan yang nyata (syahadah). Inipun bertumpu pula pada panca indera, karena jelas tidak mungkin membandingkan sesuatu yang kedua-duanya, atau salah satunya tidak pernah terindera. Jika ketiga sarana pengetahuan tersebut terputus secara otomatis pengetahuan kitapun terputus. Itulah makna munajat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW “tetap Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisiMu”. Inilah ghaib yang absolut, mutlak. Dalam artian, kegaiban yang tak mungkin dapat di nalar atau tidak mempunyai bentuk dalam nalar kita. Meskipun ketiadaan bentuk kongkritnya dalam nalar, tidak berarti ‘wujud’, keberadaannya dapat dinafikan.
Contoh ghaib mutlaq (kegaiban yang absolut) dapat kita pahami pada ayat berikut ini :
{إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}
Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Adapun ghaib nisbiy, kegaiban yang relatif dijelaskan oleh Allah SWT dalam ayat :
{الم. غُلِبَتِ الرُّومُ. فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ. فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ. بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ}
Alif lâm mîm. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi.Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.

Bangsa Romawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai Kitab Suci sedang bangsa Persia adalah beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). kedua bangsa itu terlibat peperangan. Ketika tersiar berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia, Maka kaum musyrik Mekah menyambutnya dengan gembira Karena berpihak kepada orang musyrikin Persia, sedang kaum muslimin berduka cita karenanya. Kemudian turunlah ayat ini dan ayat yang berikutnya menerangkan bahwa bangsa Romawi sesudah kalah itu akan mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun saja. hal itu benar-benar terjadi. Beberapa tahun sesudah itu menanglah bangsa Romawi dan kalahlah bangsa Persia.
Ketika ayat ini diturunkan, tak seorangpun sahabat Rasulullah SAW yang mengetahui tentang kemenangan orang-orang Romawi (beragama Nasrani). Barangkali berfikirpun tidak. Akan tetapi, ketika sejarah membuktikan berita Al-Qur’an tersebut, mereka sadar akan kebenaran wahyu.
Berikut beberapa kaidah dalam memahami perkara-perkara keimanan :
• Apa yang kita dapat dengan indera, kita yakini adanya, kecuali bila akal kita mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman.
• Keyakinan, disamping diperoleh dengan menyaksikan langsung, bisa juga melalui berita yang bersumber pada seseorang yang diyakini kejujurannya/integritas moral.
• Kita tidak berhak memungkiri wujud sesuatu, hanya karena tidak dapat terjangkau dengan indera kita sendiri.
• Seseorang hanya bia mengkhayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.
• Akal hanya dapat menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu. (kita tidak dapat menunjukkan suatu negeri, dimana negeri tersebut tidak di darat, laut, udara dan tidak ada dimana-mana).
• Iman adalah fitrah dasar manusia, apapun agama, ideology dan mazhab yang kemudian diikutinya.
• Kepuasan material di dunia sangat terbatas
• Keyakinan akan hari kiamat adalah konsekwensi logis dari keyakinan tentang adanya Allah SWT.
Dengan model atau kerangka penjelasan naqliyah (Al-Qur’an dan Sunnah) serta penalaran aqliyah (logika) tersebut, kita meyakini bahwa pengetahuan mutlak tentang perkara-perkara ghaib merupakan hak proregatif dan kekhususan bagi Allah SWT. Akal tidak memiliki otoritas untuk menjabarkannya secara gamblang dalam realitas kehidupan manusia. Dengan demikian, mencari-cari pengetahuan tentang yang ghaib merupakan kesia-siaan belaka, dan orang yang mengklaim memiliki pengetahuan tentang hal ini, tanpa merujuk kepada petunjuk Allah SWT dan rasulNya, dapat dinyatakan sebagai kedustaan belaka.
{وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ }
“...dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar.”

{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ}
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Peringatan tegas Rasulullah SAW terhadap pelaku klenik, perdukunan dan sejenisnya dari klaim-klaim pengetahuan tentang yang ghaib terbaca pada hadis berikut ini :
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mendatangi seorang dukun atau peramal lalu ia percaya terhadap apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”

 Syumûliyah (شُّمُوْلِيَّـةٌُ)
Kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk meyakini dan mengamalkan Islam secara total, tidak boleh parsial. Totalitas keyakinan inilah yang menjadi pendorong utama kita dalam menunaikan segala amanah khilafah, pemakmuran bumi dalam bingkai ajaran Ilahiyah.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ}
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Agar kita dapat menjalankan amanah ini dengan baik, Allah SWT menyediakan berbagai fasilitas dan instrumen berupa alam yang terhampar. Kita dianugerahkan potensi untuk mengelola alam ini sesuai dengan risalahNya, bukan untuk dieksploitasi. Tapi juga tidak untuk dipertuhankan. Relasi kita dengan seluruh alam dan potensi yang terpendam di dalamnya ialah hubungan pemanfaatan dan pendayagunaan agar kita hidup dengan baik, menunaikan amanah khilafah dengan paripurna.
{أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ}
“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

Mari kita bandingkan, sekaligus kita renungkan ayat ini :
{تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ. الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ. ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ. وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ}
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Sesungguhnya kami Telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”

Lima ayat terbaca, mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang kurang dari penciptaan alam semesta. Bahkan, di sini Allah SWT menantang kita untuk terus menatap dan mencermati akankah ada sesuatu yang tidak beraturan. Bila kita mencoba mencari-cari celah kelemahan dalam struktur penciptaannya, kita hanya memperoleh keletihan di mata!
Barangkali, klimaks dari itu semua hati kita tertegun dan dengan nada bergetar penuh ketakutan terhadap keagungan Allah, kita berkata sebagaimana yang diajarkanNya:
{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ. رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ. رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ}
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh Telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."

Meskipun alam demikian tertata dan mengagumkan. Meskipun alam takkan dapat kita kalahkan di kala ia menunjukkan fenomena keagunganNya, kita, manusia ini, lebih mulia dan lebih terhormat dari alam itu sendiri. Karena ini adalah konsekuensi logis dari amanah khilafah yang telah kita emban. Bukankah amanah ini tak mampu diemban oleh ciptaan-ciptaan Allah selain kita?
{إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا}
“Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Oleh karena itulah, kelemahan fisik ketika berinteraksi dengan alam, tidak boleh menjadikan kita menghambakan diri kepada alam dan mempertuhankannya! Alam, tetaplah alam yang tercipta. Dia makhluq dan bukan Khaliq! Segenap hidup, mati, dan apa saja yang ada pada diri kita hanyalah diorientasikan kepadaNya :
{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Apa makna “syumuliyah” pada narasi terbaca di atas?
“Syumuliyah”, dapat diartikan sebagai ‘integralitas’ atau ‘komprehensif’. Maksud integralitas di sini ialah menyatunya aspek substansi (maknawi, keyakinan) dan praktek nyata kehidupan kita (aplikasi). Atau, lebih populer di kalangan kita dengan sebutan menyatunya dua aspek sekaligus; aspek substantif dan aspek formalistik. Kedua aspek ini tidak boleh didikotomi.
Contohnya begini. Pada surat Al-Mulk, ayat 1-5 terbaca di atas, Allah SWT mengajarkan kita tentang ciptaanNya yang paripurna dan maha dahsyat. Persis seperti yang tertera pada surat Alu ‘Imran, ayat 190-194, tentang “ulul albab” yang merenung tentang keagungan Allah SWT dalam ciptaanNya. Semua fenomena keagungan Allah SWT, yang terbentang luas dalam cakrawala ayat-ayat kauniyahNya harus dikembalikan kepadaNya. Oleh karena semua itu kembalinya kepada Allah SWT (Al-Khaliq), maka segala pujian keagunganpun hanya ditujukan kepada Allah, bukan kepada ciptaanNya (makhluq). Pujian keagungan dalam bentuk tahmid, tasbih,dzikir sampai pada tingkat penyembahan (ibadah) “haram” ditujukan kepada alam.
Kesadaran dan keyakinan kita akan keagungan Allah SWT dalam ciptaanNya, itulah yang dimaksud dengan “substansi” keimanan (domain keyakinan). Sementara lantunan pujian syukur, tahmid, dzikiri sampai pada peribadatan sebagai ekspresi penyerahan diri kepadaNya kita sebut sebagai “formalitas” keimanan (domain praksis). Keduanya tidak boleh dipisah-pisahkan (dikotomi) apalagi dikontradiksikan. Inilah sesungguhnya makna “syumuliyah”.
Inilah permasalahan terbesar umat manusia sejak generasi Nabiyiyullah Adam ‘alaihissalam. Yaitu permasalahan yang menyangkut persepsi tentang “Tuhan”, “alam”, “manusia” dan “kehidupan”. Atau para pemikir muslim menyebutnya sebagai “worldview” (al-Tashawwur al-Islamy; Ru’yatul Islam lil wujûd). Dengan paradigma semacam ini pula tidaklah mungkin seorang muslim akan mengatakan “Ndak apa-apa tidak shalat, yang penting saya berbuat baik.” Atau ungkapan yang tidak jarang saya simak dari seorang profesor ketika masih kuliah di pascsarjana dulu, “Saya yakin Islam yang benar, tapi saya tidak tau kalau Kristen itu salah!.” Atau barangkali ada yang berkata,”yang penting saya sholeh secara pribadi, perkara ada orang kelaparan itu bukan urusan saya.” Atau “Gak apa-apa to saya jadi pelacur, yang penting ikhlas kok, gak pakai korupsi”. Na’udzubillah min dzalik.
Di antara konsekuensi dimensi syumuliyah keimanan kita ialah menerima seluruh isi dan kandungan Al-Qur’an termasuk penjelasan-penjelasan Rasulullah SAW dalam hadis shahihnya sekaligus. Kita tidak diperkenankan untuk memilah-milah mana ayat-ayat atau hadis-hadis yang sesuai dengan kepentingan kita, lalu meninggalkan sebagian yang lain. Atau dalam sikap hanya menerima Al-Qur’an saja, ataupun hadis saja. Sikap keimanan yang ambivalen dan dikotomis dikecam oleh Allah SWT dalam ayat di berikut ini :
{إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا. أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا. وَالَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Agar kita tidak menjadi manusia yang terbelah kepribadiannya (split personality), hidup dikotomis dan parsial, hendaklah kita selalu ingat bahwa iman dalam Islam mengajarkan kita tiga dimensi sekaligus : keyakinan yang kokoh dalam hati, pernyataan verbal pada lisan yang jujur dan pembuktian dengan amal kebaikan organ tubuh kita. Wallahu A’alam bi al-shawab.
Agar tidak menjadi manusia yang terbelah kepribadiannya (split personality), hidup dikotomis dan parsial, hendaklah selalu ingat bahwa iman dalam Islam mengajarkan kita tiga dimensi sekaligus : keyakinan yang kokoh dalam hati, pernyataan verbal pada lisan yang jujur dan pembuktian dengan amal kebaikan organ tubuh kita. Wallahu A’lam bi al-shawab.

1 Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah, Kitab al-Iman (Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1414 H), Cet. IV, hal. 151-152
Lihat kitab Tauhid Syaikh Sholih Al-Fauzan.
Ibnu Taymiyah, Majmu’ Fatawa, VII/195. Lihat juga, Muhammad Ba Karim Muhammad Ba Abdullah, Wasathiyatu Ahlis Sunnah Baya Al-Firaq, hal. 335-336
Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, I/139
HR Muslim
HR Muslim
Al-Isra’ :85
Al-Imam Al-Syaukani, Fath al-Qadir, jilid IV, hal. 347. Lihat al-Maktabah al-Syamilah.
HR Muslim. Lihat Al-Maktabah al-Syamilah : Shahih Muslim, hadis nomor 5115, Bab : ‘Ardl Maq’ad al-Mayyit min al-Jannati aw al-Nar ‘alaih, Juz : 14, Hal. 31.
Al-An’am : 116
Yunus : 35-37
Al-Maidah : 3
Al-Nisa : 65
HR Tirmidzi, dari sahabat Jabir Ibn Abdillah radliyallahu ‘anh
Al-Nahl : 78
Al-Baqarah :1-3
Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, al-Madkhal li Dirasat al-Aqidah al-Islamiyah ‘ala Madzhab ahl al-sunnah wa al-Jama’ah, (Riyadl: tp., tt. ), Cet. hal. 55.
Lihat : Al-Maktabah Al-Syamilah,Syaikh Albany, Silsilah al-Ahadit al-Shahihah, I/337
Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, al-Madkhal…Hal. 57.
Luqman : 34
Al-Rum : 1-5
Ibnu Jarir al-Thabary, Tasir al-Qur’an al-Karim, Jilid 20, hal. 60
Drs. Yunahar Ilyas, Lc., Kuliah Akidah Islam,(Yogyakarta: LPPI UMY, September 2002), Cet. 7, Hal. 7-8
Alu ‘Imran : 179
Al-‘An’am : 59
HR Abu Dawud dari Abu Hurairah). Lihat, Sunan Abu Dawud, Kitab al-Thibb,(Beirut: Dar El-Fikr) Vol. III, Hal. 229, tanpa lafazh “عَرَّافًا”. Redaksi hadis tertera di atas diriwatkan oleh Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, (Beirut: Dar El-Fikr) Vol. II, Hal. 429.
Al-Baqarah : 208
Luqman : 20
Al-Mulk : 1-5
Alu ‘Imran : 190-194
Al-Ahzab :72
Al-An’am : 162
Al-Nisa’: 150-152

INTELEKTUAL MUDA MUSLIM SEBAGAI PILAR UTAMA BANGSA YANG BERKARAKTER




Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.


Pengantar
Pada acara pagi ini, 8 Agustus 2008, dalam rangka membersamai mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Magelang, saya diberi amanah untuk menyampaikan materi yang berkenaan dengan kaum intelektual dan masalah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam term of reference yang ditulis oleh panitia terbaca bahwa pertautan antara rasa kebangsaan dan paham kebangsaan akan melahirkan semangat kebangsaan dalam wujud nyata membela dan berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara. Semangat kebangsaan ini dapat mempersatukan segala perbedaan. Semangat inilah yang kian hari makin rapuh karena berbagai faktor internal dan eksternal bangsa itu sendiri. Lalu di manakah posisi kita, intelektual muda muslim? Apa kontribusi yang seharusnya kita dedikasikan kepada bangsa kita yang baru saja merayakan satu abad kebangkitannya?
Membaca resume TOR panitia tersebut, dalam forum ini ada baiknya saya mengajak rekan-rekan untuk kembali mendiskusikan setidaknya dua hal; menentukan starting point (munthalaq) dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara serta relevansinya dengan konsep umat; dan potret seorang intelektual muda muslim sebagai pilar utama dalam mewujudkan bangsa yang berkarakter.

Spirit Bukit Shafa : Afirmasi atas Pandangan Hidup Islam
“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan (kepadamu wahai Muhammad) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik!”. Inilah perintah Allah s.w.t. yang mengakhiri masa dakwah sirriyah (secara rahasia, tersembunyi) sekaligus sebagai deklarasi dakwah pada tataran publik (jahriyah).
Rasululllah naik ke bukit Shafa. Dengan suara lantang beliau berseru “ya shabâhah!”. Seruan ini familiar di kalangan masyarakat Arab sebagai warning kedatangan serangan dari pihak luar. Tidak seorangpun yang lalai. Kawan dan lawan, semuanya bergegas berkumpul di hadapan manusia agung, Muhammad s.a.w. Beliau berkata:”Wahai Bani ‘Abdul Muthalib! Wahai Bani Ka’ab! Jika ku katakan kepada kalian bahwa,di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?”. Secara aklamasi mereka menjawab, “Ok, kami percaya wahai Muhammad! Sungguh kami tidak pernah mendapatimu berdusta walau sekali saja.” “Baik! jika demikian, maka ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian tentang adanya adzab yang berat.” Pernyataan tersebut segera disambut oleh Abu Lahab dengan arogan, “celaka kau wahai Muhammad! Apakah hanya untuk mengatakan itu kau kumpulkan kami di tempat ini?!. Melalui Jibril ‘alaihissalam Allah SWT menegaskan kebenaran rasulNya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya pasti binasa”
Narasi sejarah ini menjelaskan hal yang sangat penting tentang worldview (al-tashawwur al-Islamy; ru’yatul Islam lil wujûd) seorang muslim dan bangsa muslim yang khas. Sebuah titik tolak peradaban universal yang kontra paganisme dan rasialisme etnik, tidak tersekat oleh kekerdilan suku, ras, masyarakat, budaya ataupun batas-batas geografis, sebagaimana universalitas Islam yang difirmankan oleh Allah SWT : “Dan tidalah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta!”. Potret bangsa muslim, tidak boleh tidak, harus sesuai dengan karakteristik dasar Islam itu sendiri; Rabbaniyah (Allah Oriented pada dimensi sumber ajaran dan tujuan); insaniyah-‘alamiyah (universal dan kompatibel dengan aspek kemanusiaan pragmatis); al-‘adl al-muthlaq (berkeadilan, anti tirani dan kezaliman apa dan siapapun); al-tawâzun bayna al-fard wa al-jamâah (keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial); tsabât wa al-tathawwur (kombinasi serasi antara perkara konservatif dan kemajuan zaman).

Sirah Nabawiyah : Cermin Membangun Karakter Bangsa
Karakter secara leksikal berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Dengan demikian, karakter bangsa berarti yang membedakan kita dengan bangsa lain pada aspek-aspek tersebut.
Karakter sebuah bangsa terbentuk melalui perjalanan hidup; pengetahuan, sistem keimanan, ideologi, pengalaman sejarah serta penilaian mereka terhadap sejumlah pengalaman tersebut. Jadi, kepribadian atau karakter bangsa merupakan hasil interaksi totalitas bangsa tersebut dengan berbagai peragkat dasar kemanusiaan yang dimilikinya. Karakter bukanlah sekedar konstruksi nalar bersama. Karakter merupakan titik akumulasi di mana nalar, kesadaran moral (konsep haq dan bathil, khair dan syarr) dan kesucian jiwa bertaut, memancarkan cahaya kehidupan dan menghadirkan pencerahan jiwa yang konstruktif bagi alam semesta, rahmatan lil’alamin.
Batasan makna karakter terbaca menginformasikan kepada kita tentang pentingnya bercermin pada sejarah, terlebih sirah nabawiyah. Rekonstruksi dan reaktualisasi pemaknaan sejarah kenabian menjadi cermin penting dalam menata ulang bangunan karakter dan kepribadian bangsa kita yang semakin hari semakin pudar. Dari perspektif ini penulis mengelaborasi karakteristik kebangsaan kita.
Ketika dakwah Rasulullah s.a.w. tak lagi terbendung dengan berbagai strategi perlawanan dan rekayasa opini publik masyarakat Arab masa itu, ditawarkan beberapa pilihan yang menggiurkan kepada Rasulullah .s.a.w.; harta, tahta dan wanita. Bahkan sampai pada opsi kompromi teologis dengan secara bergantian menyembah tuhan masing-masing. Semuanya ditolak!. Beliau dengan tegar menyatakan konsisten menjalankan ajarannya di jalur ‘kultural’ dengan menata ulang visi ketuhanan masyarakat Arab, visi kemanusiaan, visi tentang hidup dan visi tentang alam tercipta yang telah terkontaminasi sedemikian jauh dengan virus-virus paganisme dan rasialisme etnik masyarakat Arab lalu mengisinya dengan tauhid sebagaimana grand design dakwah para Nabi sebelumnya. Al-Imam Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai proses al-takhliyah qabla al-tahliyah; pengosongan diri dari segala hal yang kontradiktif dengan nilai-nilai luhur Islam sebelum berfesona dengannya.
Di sini kita belajar untuk menjadi bangsa yang kritis (critical society), bukan saja sebagai individu. Kita dituntut secara massif untuk mengkonservasi nilai-nilai fundamental keimanan, keislaman dan keindonesiaan kita di tengah serbuan pasar ideologi kontemporer yang destruktif atas kemanusiaan sejagad. Dalam konteks ini, barangkali, kita perlu melakukan perlawanan bersama atas berbagai varian neo kolonialisme dan imperialisme global yang menggerogoti organ vital kepribadian masyarakat kita; izzah sebagai bangsa muslim! Inilah inti ajaran tauhid, melawan tirani (thagut) dan reorientasi penghambaan (‘ubudiyah) hanya kepada Allah s.w.t. (tauhid). Visi kehidupan tauhidik ini berlawanan secara diametral dengan paganisme kekinian yang mengeksploitasi kemanusiaan kita. Kita sebut saja visi ini sebagai visi tauhidik.
Visi ini berimplikasi lebih jauh pada potret dan orientasi bangsa muslim yang universal dan kosmopolitan. Dalam struktur kepribadian bangsa kita, dengan perspektif kesatuan Pencipta dan ciptaan (wihdatul Khaliq wa al-khlaq) dan kesatuan kemanusiaan (wihdat al-basyariyah), manusia tidak lagi dipandang berdasarkan paradigma etnik dan religio-kultural. Tidak pula dipilah berdasarkan sosio-geografisnya. Satu-satunya parameter yang kompatibel dengan semangat tauhid ialah ketaqwaan yang aktual dalam tataran kehidupan pribadi, sosial serta berimplikasi positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wajah bangsa muslim yang kosmopolitan dan universal ditegakkan atas prinsip-prinsip moral yang menjadi konsensus bersama bagi segenap komunitas yang berada di teritorial Islam. Dalam hal ini, sekali lagi, Rasulullah s.a.w. tidak membeda-bedakan muslim-non muslim. Semua menjunjung tinggi common flatform yang telah disepakati. Lihatlah klausal-klausal yang tertera pada Piagam Madinah (mîtsâq al-Madînah), yang menurut para pakar sejarah dan tata negara merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia. Keadilan dijunjung tinggi. Hidup egaliter menjadi nuansa keseharian. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pernik-pernik peradaban kosmopolitan dan universal ini hanya dapat dicapai oleh Islam, mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya di dunia. Rasulullah s.a.w. menegaskan kehancuran umat terdahulu karena mempermainkan keadilan. Keadilan meletakkan manusia sejajar, tanpa memandang status dan jabatan.
Pada tataran relasi antar-manusia dengan ragam keyakinan yang bebeda, Al-Qur’an Al-Karim mengajarkan kita untuk tidak menjadi masyarakat yang kerdil, tidak ekslusif sebagaimana doktrin rasialisme kaum Yahudi “the people of God” (sya’bullâh al-mukhtâr). Bahkan dalam tataran keyakinan sekalipun, Islam tak pernah menerapkan ‘paksaan’ dan intimidasi teologis sebagaimana fakta sejarah abad Pertengahan dalam kehidupan Gereja. Islam mengajarkan toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah s.w.t.
Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Ini pula yang berimplikasi pada kohesivitas antar kelompok dan individu, terlebih sesama kaum beriman sebagaimana dicontohkan dalam catatan mu’âkhât (persaudaraan) Muhajirin dan Anshar.
Kohesivitas individu dan sosial generasi awal (salaf) di masa Rasulullah s.a.w yang sangat kokoh karena frekuensi dan basis spiritual yang sama di antara mereka. Modal spiritual (quwwah rûhiyah) ini pula yang dicatat oleh sejarah dalam membangun awal peradaban Islam yang agung. Peradaban dengan visi Uluhiyah yang sangat kental. Pembangunan dua masjid; Quba’ dan Nabawi menjadi saksi sejarah kokohnya basis spiritual tersebut.
Terakhir, bangsa muslim adalah bangsa apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Dengan penalaran yang lain, dapat dijelaskan bahwa ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah s.a.w. mengevakuasi manusia dari keterpurukan “fase mitologi” menuju fase bermartabat yang berbasis ilmu dan pengetahuan. Dari perspektif ini kita memahami dengan baik bahwa arpresiasi dan pujian sebagai “Ulul Albab” dapat diraih tatkala segala potensi akal dan spiritual yang kita miliki didedikasikan untuk memahami ayat-ayat atau tanda keagungan Allah s.w.t., bukan untuk dimitoskan, apalagi disembah. Wahyu pertama “Iqra’” memberikan landasan kokoh terhadap dinamika ilmu pengetahuan dalam sejarah panjang peradaban Islam kemudian. Cermati pula kisah ahlu shuffah yang setia menimba ilmu setiap saat kepada Rasulullah s.a.w. Di sini kita memahami bangsa muslim ialah bangsa dengan etos ilmu yang tinggi.

Peran Intelektual Muda Muslim
Islam memandang pemuda sebagai penopang pilar utama transformasi sebuah bangsa. Lihatlah Rasulullah s.a.w. Pada usia 15-20 tahun beliau telah terlibat berbagai peristiwa militer dan memainkan peran diplomatik penyelesaian sengketa masyarakat Arab. Bahkan pada usia yang sangat dini (12 tahun), beliau melakukan perjalanan bisnis ke Syam (Syria). Ini pengalaman perjalananan internasional. Beliau bertemu dengan Pendeta Buhaira yang meramalkan kenabiannya, sesuai dengan apa yang tertera di Kitab Sucinya. Sinopsis kehidupan seperti ini telah membentuk konsep diri dan peran strategis beliau dalam narasi panjang sejarah peradaban Islam.
Al-Qur’an juga bercerita kepada kita tentang Ashab al-Kahfi yang tangguh.”Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk” .
Al-Qur’anpun berkisah tentang pemuda Ibrahim a.s. yang bermental baja dalam membasmi berhala, tapi juga sosok yang sangat santun dalam berdialog dengan kaumnya. Beliau penjadi pilar utama perubahan kaumnya, bahkan menjadi sentral perhatian kaumnya,”Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim". Demikian pula tentang sosok Nabiyaullah Ismail a.s. dan nabiyullah Yusuf a.s. Mereka adalah pemuda-pemuda tangguh dan tokoh transformasi umatnya.
Dengan demikian sesungguhnya kita memiliki pijakan historis berdasarkan penuturan Al-Qur’an yang terbuktikan, bukan sekedar apologi teologis yang romantis. Maka, visi tauhidik yang telah penulis sampaikan pada bagian terdahulu hendaklah dapat mentransformasikan setiap individu di antara kita untuk hadir di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kontribusi terbaik serta karakter mulia yang membebaskan kita dari segala kungkungan dan tirani sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan tirani intelektual itu sendiri. Semua itu dapat kita rumuskan pada atribut intelektual muda muslim berikut ini : Pertama, memahami dan berpegang teguh pada ajaran tauhid serta komitmen yang utuh kepada Allah s.w.t. (Islamic world-view, a-tashawwur al-Islamy). Kedua, menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah s.w.t. Dalam konteks masyarakat manusia, penolakannya itu berarti emansipasi dan restorasi kebebasan esensialnya dari seluruh belenggu buatan manusia, supaya komitmennya pada Allah menjadi utuh dan kukuh. Ketiga, ia bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, adat-istiadatnya, tradisi dan paham hidupnya. Bila dalam penilaiannya ternyata terdapat unsur-unsur syirik dalam arti luas, maka ia selalu bersedia untuk berubah dan mengubah hal-hal itu agar sesuai dengan pesan-pesan ilahi. Manusia-tauhid adalah progresif karena ia tidak pernah menolak setiap perubahan yang positif. Ia berinteraksi dengan berbagai produk budaya dan peradaban asing yang antagonis dengan Islam.Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Kelima, visi kehidupan yang jelas tentang kehidupan yang akan dibangun bersama manusia lainnya; hablun minallah dan hablun minannas (keseimbangan dimensi vertikal dan horisontal).Keenam, seorang intelektual muda muslim harus terlibat aktif dalam transformasi masyarakat, tidak menjadi tawanan menara gading yang jauh dari penderitaan umatnya. Wallahu A’lam bi al-shawab.

Makalah disampaikan pada acara “Sepekan Bersama Mahasiswa Baru 2008 Universitas Muhammadiyah Magelang”, Jum’at 8 Agustus 2008.
Anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Periode : 2005-2010/Direktur Lembaga Bahasa Arab & Studi Islam “Ma’had Ali Bin Abi Thalib” Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
QS. Al-Hijr [15] : 94
HR Bukhari-Muslim
QS Al-Qalam [68] : 52
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), cet ke-4, hal. 445
Al-Hujurat : 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Baca pula Alu ‘Imran : 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

HR Bukhari Muslim
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ, لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
يا أيها الناس ! إن ربكم واحد و إن أباكم واحد ، ألا لا فضل لعربي على عجمي ولا عجمي على عربي و لا أحمر على أسود و لا أسود على أحمر إلا بالتقوى ( إن أكرمكم عند الله أتقاكم )، ألا هل بلغت ؟ قالوا : بلى يا رسول الله ! قال :فيبلغ الشاهد الغائب (رواه البيهقى وصححه الألباني)
Q.S. Al-Mumtahanah : 8-9
لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Q.S. Al-Baqarah : 256
لَاإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Lihat pula Q.S. Al-An’am : 108
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون
Q.S. Al-Taubah : 108-109
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ. أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين
Perhatikan respon Rasulullah s.a.w ketika mendapat informasi tentang sikap sebagian sahabat tentang gerhana yang terjadi (HR Bukhari-Muslim) :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا."وفى رواية : فَاذْكُرُوا اللَّه
Lihat Q.S. Alu Imran : 90-91
Q.S. Al-Khf : 13
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Q.S. Al-Anbiya’ : 60 قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Q.S. Al-Tawbah : 128
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم

Rabu, 22 Oktober 2008

R.u.q.y.a.h Oleh : Fatturachman Kamal,Lc,MSI

Selain berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman, Allah s.w.t menegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai penyembuh. Perhatikan tiga ayat berikut ini :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِين

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus : 57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra’ : 82)

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat : 44)

Penawar atau penyembuhan terbaca di atas mencakup segala penyakit hati dan fisik, dzahir dan bathin. Karena itu kita dapatkan para ulama melahirkan karya tulis yang tidak sedikit tentang permasalahan ini. Metode penyembuhan dengan media ayat-ayat Al-Qur’an disebut sebagai ruqyah.

Ruqyah” (رقيـة) bentuk pluralnya “ruqa” (رُقَـى ) berasal dari kata “رَقَـى”: “رَقَيْتُهُ أَرْقِيهِ” bermakna secara leksikal : “عَوَّذْتُـهُ بِاَللَّهِ” (aku mohon perlindungannya dari Allah).[1] Adapun secara istilah syar’i ia berarti mantera atau jampi yang digunakan untuk mengobati orang yang terkena musibah. Misalnya, orang yang terserang penyakit panas, kemasukan jin dan lain-lain. Ruqyah disebut juga sebagai azimat.[2]

Ruqyah terdiri dari dua jenis; ruqyah syar’iyyah (yang sesuai dengan syariat); dan

ghair syar’iyyah/syirkiyah (yang tidak sesuai dengan syariah, berunsur syirik).

Pertama : Ruqyah syar’iyah adalah dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an, mohon perlindungan dari Allah s.w.t untuk si penderita dengan asma’ dan shifat-shifatNya, atau sesuai dengan penjelasan Rasulullah s.a.w dalam sunahnya. Bagian ini hukumnya dibolehkan (mubah). Hal ini berdasarkan hadis berikut :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ »

Sahabat ‘Awf Ibn Malik al-Asyja’iy meriwayatkan, dulu, ketika kami berada pada masa jahiliah, kami melakukan ruqyah. Lalu kami tanyakan kepada Rasulullah s.a.w. Beliau menjawab :”Perlihatkan ruqyah kalian kepadaku, tidak apa-apa selama tidak mengandung unsur kesyirikan.[3]

Al-Imam al-Suyuthi menjelaskan kesepakatan para ulama tentang mubahnya ruqyah jika memenuhi tiga persyaratan; hendaknya dilakukan dengan Al-Qur’an atau asma’ dan shifatNya; dengan bahasa Arab atau yang diketahui secara pasti maknanya; dan meyakini bahwa ruqyah terasebut tidak berpengaruh murni dengan dirinya tetapi dengan kekuasaan Allah s.w.t.[4]

Caranya ialah dengan dibacakan lalu ditiupkan kepada si penderita. Atau bisa juga dengan membacakannya di air lalu diminum, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut ini :

أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقَالَ « اكْشِفِ الْبَأسَ رَبَّ النَّاسِ ». ثُمَّ أَخَذَ تُرَابًا مِنْ بَطْحَانَ فَجَعَلَهُ فِى قَدَحٍ ثُمَّ نَفَثَ عَلَيْهِ بِمَاءٍ وَصَبَّهُ عَلَيْهِ.

Bahwasanya Rasulullah s.a.w mendatangi Tsabit ibn Qais yang dalam keadaan sakit, lalu berkata “sembuhkan penyakit ini ya Rabbannas”, kemudian beliau mengambil tanah dari Bathan, diletakkannya dalam gelas, lalu menyemburkan air padanya dan menuangkannya di atasnya.[5]

Kedua : Ruqyah syirkiyah ialah di dalamnya terdapat unsur kesyirikan seperti memohon kepada selain Allah s.w.t.; meruqyah dengan nama-nama jin, malaikat, nabi atau benda-benda alam yang dikeramatkan. Termasuk dalam hal ini ruqyah dengan bahasa selain Arab yang maknanya tidak diketahui secara pasti. Ruqyah jenis ini diharamkan.[6]

Barangkali ada di antara kita yang membaca hadis Nabi s.a.w yang berasal dari sahabat Ibnu Mas’ud r.a. berikut ini :

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْك

“Sesungguhnya ruqyah, jimat dan pelet itu adalah kesyirikan.”[7]

Secara harfiah tampak ada kontradiksi dengan hadis sebelumnya. Benarkah?

Sesungguhnya hadis terdahulu dan hadis ini tidaklah kontradiktif. Hadis Ibnu Mas’ud r.a. tertulis di atas bersifat umum, dan dikhususkan oleh hadis ‘Auf ibn Malik al-Asyja’iy di mana Rasulullah s.a.w membolehkan ruqyah selama tidak mengandung unsur kesyirikan;

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ »[8]

Ruqyah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah s.a.w telah dipraktekkan oleh para sahabatnya seperti dalam riwayat berikut ini :

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَقَالَ ثَابِتٌ يَا أَبَا حَمْزَةَ اشْتَكَيْتُ. فَقَالَ أَنَسٌ أَلاَ أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ بَلَى . قَالَ « اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا »[9]

Pada bagian lain, dijelaskan pula sebagai berikut :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِى بِهَا مِنَ الْعَقْرَبِ وَإِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ فَعَرَضُوهَا عَلَيْهِ. فَقَالَ « مَا أَرَى بَأْسًا مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ ».[10]

Keterangan di atas cukup bagi sebagai dasar bagi kita bahwa, ruqyah yang diperbolehkan dalam syariat ialah ruqyah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w dan bebas dari unsur kesyirikan. Bahkan beliau pun, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, diruqyah oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Dalam hadis lain Rasulullah s.a.w menerangkan demikian :

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ». قَالُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ».[11]

Dalam hadis tersebut secara eksplisit Rasulullah s.a.w menegaskan bahwa di antara ciri-ciri umatnya yang masuk surga tanpa hisab; tidak meminta diruqyah; tidak menyandarkan nasib dengan media burung; tidak berobat dengan besi yang dipanaskan; dan tawakkal sepenuhnya kepada Allah s.w.t.

Membaca hadis tersebut, secara implisit, Rasulullas s.a.w menganjurkan kita untuk tidak meminta diruqyah oleh orang lain. Oleh karena itu, sikap terbaik kita ialah tidak meminta diruqyah oleh orang lain sekiranya kita mampu melakukannya sendiri. Karena tekstual Rasulullah s.a.w menyatakan “لاَ يَسْتَرْقُونَ” (mereka tidak minta diruqyah). Tujuannya jelas, agar harapan masuk surga tanpa hisab tidak hilang begitu saja sebagaimana hadis terbaca di atas. Di sini Rasulullah s.a.w membedakan antara orang yang meruqyah diri sendiri (الراقى) dengan orang yang minta diruqyah (مسترقي). Mengapa demikian?

Syaikh Abdurrahman Ibn Hasan Alu Syaikh, dalam kitabnya Fathul Majid syarh Kitab Tauhid menjelaskan bahwa orang yang meminta diruqyah oleh orang lain memiliki kecenderungan dan potensi untuk memalingkan hatinya dan bergantung kepada selain Allah s.w.t., sementara orang yang meruqyah dirinya sendiri justeru melakukan kebaikan yang dituntunkan oleh Rasulullah s.a.w (muhsin).[12]

Untuk memahaminya ada baiknya saya sampaikan cerita dari seorang sahabat saya. Beliau mempunyai seorang karib yang menderita satu penyakit. Beberapa kali ia berobat ke dokter dan hasilnya nihil. Kemudian pergi ke seorang tabib, sebut saja begitu, dengan keahlian pengobatan alternatif. Dengan media telur si tabib tadi ‘menjampi’ pasiennya dan ternyata memang ia sembuh. Saya tidak tau persis yang dilakukan oleh Tabib tadi ruqyah syar’iyah atau tidak (?). Intinya, karib sahabat saya tadi menjadi sangat kagum kepada si Tabib. Bahkan ia bersedia memberikan sejumlah dana untuk mendirikan semacam pondok ‘sekolah’ pengobatan alternatif.

Perhatikan pula tayangan televisi kita. Pada tayangan info komersial, secara jelas kita lihat sebagian masyarakat kita yang sedemikian antusias mencium tangan seorang ‘ahli alternatif’. Beliau diperlakukan secara berlebihan, bahkan, bisa dikatakan menjurus kepada kultus individu.

Cerita ini menjadi penegasan bahwa seseorang yang diruqyah, meskipun dengan cara yang disyari’atkan, berpotensi secara psikologis untuk tergantung kepada pengobatnya. Terlebih lagi jika cara-cara yang dilakukannya di luar ketentuan Rasulullah s.a.w. Jadi, sangatlah logis dan manusiawi, jika Rasulullah s.a.w dalam sabdanya, secara implisit, membedakan antara meruqyah diri sendiri dan minta diruqyah oleh orang lain.

Di sisi lain, semaraknya acara ruqyah secara masal perlu dicermati dengan seksama. Saya belum mengetahui secara persis adakah dalil yang dapat kita jadikan dasar melakukan ruqyah secara masal. Secara sederhana saja begini. Jika Rasulullah s.a.w. menuntunkan kita untuk meruqyah diri sendiri, dan dengan begini kita mendapat jaminan masuk surga tanpa hisab. Mengapa kita harus merepotkan diri dengan sesuatu yang belum jelas duduk perkaranya. Bukankah lebih baik kita mengajarkan umat untuk serius mempelajari Al-Qur’an, termasuk cara membacanya, syukur-syukur sampai tingkat menghafal, sehingga mereka bisa mandiri dlam berinteraksi dengan Kalamullah itu?

Ada pula yang perlu diperhatikan. Tingkat pemahaman dan daya tangkap masyarakat kita. Kita sangat paham bahwa struktur budaya masyarakat Indonesia umumnya, terkhusus lagi orang Jogja, ‘masih’ sarat dengan berbagai nuansa; kebatinan, klenik, primbon, mantra-mantra jawa kuno, penanggalan, ramalan bintang dll., yang semua ini berakibat pada ‘tidak berfikir panjang’. Serba instan dan pragmatis, terlebih dalam jeratan kesulitan ekonomi yang kini melanda sebagian besar bangsa ini.

Saya sering merenung. Ketika di televisi ditayangkan acara-acara pengobatan; sebagian dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan sebagian lagi tidak. Malah menggunakan alat bantu kemenyan, bunga dan sejenisnya. Ada lagi yang berburu hantu dengan gaya khas yang memukau pemirsa. Tapi juga didahului dengan yasinan para tetangga tuan rumah yang mau ‘dibersihkan’. Ada lagi yang mencoba mengobservasi alam ghaib. Dalam tayangan-tayangan ini tampak respon si pasien ataupun si pelaku tidak berbeda, atau paling tidak sangat mirip; kejang-kejang, teriak, menyerupai tingkah laku dan suara binatang tertentu dll.

Mari kita ingat baik-baik satu acara penyembuhan yang dilakukan oleh seorang Penginjil dari Kanada dan mengejutkan umat muslim di Jogjakarta. Dipublikasi di mana-mana bahwa pada hari Rabu 30 Mei 2007 s/d Sabtu 2 Juni 2007 akan diselenggarakan Jogja Festival 2007 yang berisikan acara pengobatan/penyembuhan masal yang diiringi dengan kebaktian rohani.

Dr. Peter Youngren adalah seorang Penginjil dari Kanada. Dia telah melakukan perjalanan penginjilan ke lebih dari 85 negara di dunia. Di Indonesia, dia telah mengadakan Festival Penyembuhan di berbagai kota seperti; Semarang, Bandung dan Manado. Dia juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar ‘Global Harvest Praise’. Tentang mukjizat atau penyembuhan yang ditawarkannya kepada masyarakat ia berpromosi :”Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.”[13]Peter juga menyatakan demikian,”Saya sudah berkunjung ke banyak negara selama 30 tahun. Baik negara dengan penduduk hindu, Islam, Budha sampai penganut Atheis sekalipun dan responnya cukup positif.”[14] Pada bagian lain iklannya disebut “yang buta bisa melihat”, “yang pincang bisa berjalan.”

Pertanyaan saya sangat sederhana. Siapa atau bagaimana kita menjelaskan kepada pemirsa Republik ini yang jumlahnya jutaan orang tersebut; ini sesuai syariat dan itu tidak sesuai syariat? Kalau pemirsa kita, umat kita, memiliki kapasitas yang pas dan tepat untuk mencerna dan menerimanya, mungkin saja kekhawatiran saya tidak bermasalah. Tapi sekali lagi, siapa yang menjamin itu? Wallahu a’lam.


[1] Al-Mishbah al-Munir III/459

[2] Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Kitab Tauhid, Terj. Ainul Haris (Yogyakarta: UII, 1420), hal. 77

[3] HR Muslim

[4] Syaikh Abdurrahman Ibn Hasan Alu Syaikh, Fath al-Majid Syarh Kitab al-Tauhid (Kuwait: Ihya al-Turats, 1414), hal. 108

[5] HR Abu Dawud

[6] Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Kitab Tauhid..hal. 78

[7] HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Bani

[8] HR Muslim

[9] HR Bukhari

[10] HR Muslim

[11] HR Bukahri Muslim, Lafadz tertulis riwayat Muslim

[12] Syaikh Abdurrahman Ibn Hasan Alu Syaikh, Fath al-Majid Syarh Kitab al-Tauhid (Kuwait: Ihya al-Turats, 1414), hal. 58

[13] Lihat, Bethanygraha.org dan Wikipedia

[14] Lihat, “Awas !!! Pemurtadan di Balik Pengobatan dalam bulletin At-Tauhid, Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah (Yogyakarta: Divisi Dakwah Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary), Edisi : Tahun II, 8 Jumadil Awal 1428 H/25 Mei 2007, hal. 2